Wonogiri Walking Tour: Bukti Edukasi Sejarah Kota Bisa Dikemas Lebih Asik dan Interaktif

HMJ Dharmaduta — Berbicara soal belajar sejarah biasanya identik dengan suasana kelas yang tenang, menghafal barisan tahun, nama tokoh, atau membaca buku-buku yang tebalnya minta ampun. Tidak heran kalau banyak orang yang menganggap belajar sejarah itu membosankan. Namun, anggapan itu perlahan mulai berubah berkat hadirnya komunitas baru bernama Wonogiri Walking Tour. Ini merupakan komunitas yang mengemas metode belajar historical sejarah melalui story taling di luar ruangan dengan aktivitas berjalan kaki santai menjadi petualangan seru untuk berburu fakta-fakta unik seputar sejarah yang jarang ada bahkan tidak disebutkan secara menyeluruh di dalam buku paket sekolah. Warna baru inilah yang sukses dibawa oleh Wonogiri Walking Tour (WWT). Lewat kegiatan jalan-jalan edukatif yang biasa dilaksanakan di hari minggu, dari pukul 07.00 sampai 10.30 WIB ini, mereka berhasil membuktikan kalau setiap sudut kota punya cerita tersendiri. Menggunakan pakaian santai dan membawa kamera, para peserta diajak menyusuri jalanan bukan cuma buat jalan kaki biasa, tapi untuk menjelajahi “ruang kelas terbuka” yang seru sambil mengulik kisah-kisah masa lalu Wonogiri yang selama ini jarang diketahui orang banyak, bahkan Masyarakat setempat.

Suasana Wonogiri Walking Tour (foto:Andin hanizah)

Yusuf Salsa, inisiator di balik lahirnya Wonogiri Walking Tour, menceritakan bahwa  ini awalnya muncul dari keresahan pribadinya. Sebagai pemuda asli Wonogiri, ia melihat banyak tempat bersejarah di daerahnya yang punya nilai cerita luar biasa, tapi sering dilewati begitu saja karena penampilannya terlihat biasa saja kalau cuma dipakai untuk foto-foto. “Banyak tempat di Wonogiri yang punya nilai filosofi dan sejarah hebat, seperti jejak perjuangan Raden Mas Said, tapi kalau cuma buat tempat foto ya visualnya biasa saja. Di sinilah walking tour mengambil peran. Kami tidak menjual tempat foto bagus, tapi kami menjual nilai cerita dan pengetahuan menarik di baliknya lewat metode storytelling yang asyik. Kami ingin anak-anak muda yang lagi pulang liburan ke Wonogiri punya pilihan acara yang seru buat kumpul-kumpul dan belajar hal baru, tanpa harus jauh-jauh pergi ke Kota Solo.” kata Yusuf.

Menariknya, metode belajar di sini berjalan dua arah dan sangat santai. Tidak ada suasana tegang seperti mendengarkan guru berceramah atau mencatat materi di buku. Peserta justru diajak aktif melihat langsung detail bangunan kuno, mengobrol santai di sepanjang jalan, sampai membedah sejarah langsung di depan objeknya. Cara seperti ini bikin informasi sejarah terasa lebih nyata, gampang dipahami, dan langsung menempel di ingatan tanpa perlu pusing-pusing menghafal.

(foto:Andin hanizah)

Sejak pertama kali berjalan pada Minggu, 11 Januari lalu, kegiatan ini langsung memikat hati banyak orang yang penasaran dengan suasana belajar yang baru dan seru. Sampai sekarang, WWT sudah menyiapkan tiga pilihan rute perjalanan yang menarik, yaitu Rute Spoor Wonogiri, Rute Gunung Gandul, dan rute terbaru yang akan datang bernama Saba Desa. Khusus untuk Rute Spoor Wonogiri, perjalanan melacak sisa-sisa kejayaan kereta api zaman dulu ini bahkan sudah sukses digelar sebanyak 7 kali. Di rute ini, peserta diajak melihat langsung area stasiun, mes pegawai kereta kuno, tangki air tua, sampai kompleks gudang logistik. Keunikan cara belajar lewat pengalaman langsung ini rupanya juga menarik perhatian dunia sekolah formal.

Buktinya, pada Kamis, 16 April 2026 lalu, WWT sukses mengadakan perjalanan khusus private trip bersama rombongan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Guru Sejarah SMK Kabupaten Wonogiri. Kegiatan bersama para guru sejarah ini dilakukan untuk melihat seberapa efektif metode jalan-jalan sejarah ini apabila diterapkan langsung kepada para siswa di sekolah tingkat SMA, SMK, atau MA. Tidak kalah heboh dengan peserta umum, para guru dan siswa terlihat sangat antusias berburu pengetahuan di sepanjang jalur kereta api tua. Mereka bahkan ditantang untuk mengobrol langsung dengan warga sekitar dan para pedagang di pasar tradisional untuk mencari tahu filosofi di balik kuliner khas Wonogiri yang legendaris.

(foto:Andin hanizah)

Tanggapan positif pun datang dari para guru sejarah yang ikut dalam rombongan. Menurut mereka, metode berjalan kaki sambil merunut urutan sejarah langsung di lapangan terbukti sangat ampuh untuk memancing rasa ingin tahu siswa secara alami. Aktivitas di luar ruangan seperti ini bisa menghilangkan rasa bosan belajar di dalam kelas, bikin materi pelajaran jadi lebih mudah diingat, dan mengajarkan siswa cara menghargai peninggalan sejarah lewat pengalaman mereka sendiri. Hadirnya Wonogiri Walking Tour menjadi bukti nyata sekaligus solusi buat siapa saja yang selama ini menganggap sejarah itu kaku dan membosankan. Metode edukasi luar ruang ini mengajarkan kita bahwa belajar tidak selamanya harus di dalam kelas dan menatap papan tulis.

Kehadiran Wonogiri Walking Tour pada akhirnya bukan sekadar tentang tren jalan-jalan di akhir pekan. Kegiatan ini adalah sebuah refleksi bahwa merawat warisan sejarah tidak harus selalu terasa kaku dan membosankan. Dengan membawa ruang belajar langsung ke tempat sejarah itu lahir, kita tidak hanya sedang menyerap ilmu pengetahuan baru, melainkan sedang membangun kedekatan emosional dan rasa bangga terhadap identitas daerah sendiri.

Bagi siapa saja yang ingin merasakan pengalaman belajar yang interaktif, dan penuh makna, metode edukasi luar ruang ini menjadi sebuah metode belajar yang wajib dicoba. Karena pada setiap langkah kaki merupakan lembaran kisah masa lalu Wonogiri yang kembali hidup dan siap kita lestarikan untuk generasi masa depan.

,


Eksplorasi konten lain dari HMJ Dharmaduta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca