Puluhan Peserta Telusuri Jejak Pangeran Sambernyawa dalam Wonogiri Historical Trip 2026

HMJ Dharmaduta Sebanyak 50 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan Wonogiri Historical Trip (WHT) 2026 yang mengangkat tema penelusuran jejak perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Kegiatan yang digelar pada Minggu (31/5/2026) tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-285 Kabupaten Wonogiri sekaligus upaya mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Peserta yang berasal dari Wonogiri, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, hingga Demak memulai perjalanan dari Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri menggunakan armada angkutan kota menuju sejumlah situs bersejarah di Kecamatan Selogiri. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidup dan perjuangan Pangeran Sambernyawa dalam melawan penjajahan kolonial.

Selama perjalanan, peserta diajak mengunjungi berbagai lokasi bersejarah, termasuk kompleks makam dan petilasan yang berkaitan dengan keluarga serta perjuangan Raden Mas Said. Di setiap lokasi, peserta memperoleh penjelasan mengenai nilai-nilai sejarah, filosofi perjuangan, dan warisan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada pemandu maupun juru kunci situs yang dikunjungi.

Puluhan peserta Wonogiri Historical Trip menyambangi Sendang Siwani  (Foto: Solopos)

Menurut penyelenggara, kegiatan ini bertujuan membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah daerah. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat identitas budaya masyarakat Wonogiri melalui pemahaman terhadap perjuangan tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya wilayah tersebut.

Pangeran Sambernyawa, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kadipaten Mangkunegaran, memiliki hubungan yang erat dengan sejarah Wonogiri. Kawasan Selogiri dan Nglaroh dikenal sebagai salah satu basis perjuangannya. Semangat perjuangan yang diwariskan melalui filosofi “Tiji Tibeh” (mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh) hingga kini masih menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat.

Tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan wisata sejarah ini menunjukkan bahwa sejarah lokal masih memiliki daya tarik yang kuat. Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala sehingga nilai-nilai perjuangan dan warisan budaya Pangeran Sambernyawa tetap hidup serta dikenal oleh generasi mendatang.



Eksplorasi konten lain dari HMJ Dharmaduta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca