HMJ Dharmaduta – “Cuma satu episode.” Kalimat ini mungkin sering terdengar dari seseorang yang sedang menonton drama Korea. Namun, kenyataannya satu episode bisa berubah menjadi dua, tiga, bahkan satu season sekaligus. Bagi sebagian anak muda, drama Korea atau drakor bukan lagi sekadar tontonan untuk mengisi waktu luang. Drakor sudah menjadi salah satu bentuk hiburan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketertarikan anak muda Indonesia terhadap konten Korea juga masih menjadi perhatian hingga 2026. Korea Creative Content Agency (KOCCA) melalui 2026 Indonesia K-Content Consumer Trend Survey secara khusus meneliti kebiasaan mahasiswa di sejumlah kota di Indonesia dalam mengonsumsi K-content. Survei tersebut melihat berbagai hal, mulai dari tingkat ketertarikan, frekuensi konsumsi, genre yang diminati, platform yang digunakan, hingga perubahan perilaku setelah mengonsumsi konten Korea.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat drama Korea begitu menarik?
Salah satu jawabannya adalah cerita. Drama Korea sering mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan, seperti persahabatan, keluarga, percintaan, pendidikan, hingga pekerjaan. Cerita yang dikemas dengan konflik dan perkembangan karakter membuat penonton mudah ikut terbawa suasana. Ada kalanya penonton merasa senang ketika tokohnya bahagia, ikut kesal ketika tokohnya menghadapi masalah, bahkan merasa sedih ketika cerita berakhir.
Selain cerita, media sosial juga memiliki peran besar dalam membuat drama Korea semakin dikenal. Potongan adegan, kutipan dialog, hingga pembahasan mengenai karakter sering muncul di TikTok, Instagram, dan platform lainnya. Seseorang yang awalnya tidak tertarik menonton pun bisa menjadi penasaran setelah melihat sebuah adegan yang viral.
Menariknya, pengaruh drakor tidak berhenti pada aktivitas menonton. Budaya Korea yang muncul dalam drama juga dapat membuat penonton tertarik pada makanan, fashion, musik, bahasa, hingga produk kecantikan Korea. Dengan begitu, drama Korea tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi salah satu jalan masuk bagi anak muda untuk mengenal budaya populer Korea.
Namun, bukan berarti semua yang ditampilkan dalam drama harus dianggap sebagai gambaran kehidupan Korea yang sebenarnya. Drama tetap merupakan karya hiburan yang memiliki unsur cerita dan dibuat untuk menarik perhatian penonton. Karena itu, menikmati drakor juga perlu disertai kemampuan untuk membedakan antara hiburan dan realitas.

