Jejak Pangeran Sambernyawa di Sendang Siwani: Mengapa Sejarah Butuh Peran Anak Muda untuk Tetap Dihidupkan?

HMJ Dharmaduta – Di balik deru modernisasi Kabupaten Wonogiri, jejak sejarah Pangeran Sambernyawa (Mas Said) di Situs Banyu Panguripan Sendang Siwani, Matah, Selogiri, menyimpan potongan narasi kultural dan dinamika independensi yang belum banyak diketahui publik. Penelusuran langsung Saya bersama Dinda, rekan saya,  melalui wawancara dengan juru kunci setempat mengungkap bahwa sejarah tidak sekadar prasasti mati, melainkan ruang hidup yang membutuhkan keterlibatan kritis dan kepedulian generasi muda agar tak tergerus zaman.

Situs Banyu Panguripan Sendang Siwani bukan sekadar mata air biasa. Tempat ini merupakan situs sejarah pertapaan (sesireh) dan perjuangan fisik serta spiritual Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Di lokasi ini, kelestarian tradisi seperti Pagelaran Wayang Kulit dan Ruwatan Masal setiap bulan Suro terus dipertahankan secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah daerah.Dinamika sejarah di Sendang Siwani tidak lepas dari jalinan peran para tokoh penting di dalamnya. Wilayah ini berakar dari jejak Mas Said, sosok pejuang yang menjadikan Sendang Siwani sebagai pusat tirakat dan penyusunan strategi perang. Dari tempat ini pula lahir kisah spiritual dan asmara bersama Raden Ayu Rubiyah, putri lokal asal Gunung Wijil yang dipersunting Mas Said menjadi permaisuri usai peristiwa tradisi lisan wayangan.

Hubungan erat tersebut tak lepas dari peran Mbah Kasanuriman, yang dulunya beliau merupakan warga asli Karungan yang menjadi guru spiritual sekaligus mertua Mas Said. Kini, warisan narasi dan nilai-nilai luhur tersebut terus dijaga oleh Bapak Slamet Riyadi, selaku juru kunci Sendang Siwani yang konsisten mempertahankan independensi situs di tengah berbagai dinamika.Situs ini terletak di Matah, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Narasi sejarahnya bertaut erat dengan beberapa titik lokal lainnya seperti Gunung Wijil yang merupakan tempat pemakaman Raden Ayu Rubiyah sesuai wasiatnya dan Karungan juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Mbah Kasanuriman.

Peristiwa sejarah berakar dari era perjuangan Mangkunegaran abad ke-18. Sementara itu, aktivitas pelestarian tradisi, seperti pagelaran wayang kulit dan pelayanan gratis bagi ratusan pengunjung rutin dilaksanakan setiap bulan Suro hingga saat ini. Sendang Siwani memilih jalur kemandirian karena adanya polemik penyerapan anggaran daerah. Pengelola situs memilih menolak tawaran politik pragmatis demi menjaga netralitas tempat keramat ini.

Bapak Slamet Riyadi menegaskan komitmen netralitas tersebut dalam petikan wawancara berikut:

“Situs Sendang Siwani berdiri di atas tanah milik pribadi keluarga. Kami memilih menjaga netralitas agar tempat ini tetap menjadi ruang yang merangkul semua kalangan, tanpa harus terikat kepentingan politik mana pun.”

Pengelola menyinergikan acara spiritual dengan pelayanan public menyajikan makanan dan minuman gratis bagi pengunjung maupun pedagang. Kelestarian fisik situs ditandai dengan keberadaan Selo Ploso (batu petilasan bertutup kain hijau) dan pohon beringin tua ratusan tahun. Keberadaan norma adat di tempat ini sangat dijaga; pelanggaran terhadap etika situs dipercaya dapat membawa dampak spiritual serius bagi pelakunya.

(Foto: Dok. Pribadi, Andin Hanizah)

Dari semua yang kami dengar, saya dan rekan saya, Dinda, juga menjadi saksi langsung cerita dari Mbah Slamet Riyadi tersebut. Mendengarkan tuturan beliau secara tatap muka membuka mata kami bahwa sejarah bukan sekadar rentetan angka tahun di buku pelajaran, melainkan kisah nyata penuh perjuangan, prinsip, dan martabat yang dipertahankan sampai hari ini.Keteguhan Mbah Slamet menjaga independensi Sendang Siwani menjadi tamparan sekaligus pemantik rasa tanggung jawab bagi kami. Di sinilah peran penting anak muda diuji: berani mengambil alih tongkat estafet kepedulian untuk menjembatani kisah masa lalu dengan masa kini, agar warisan sejarah seperti wasiat Raden Ayu Rubiyah terus terbudidaya dan terjaga keutuhannya.

Situs Banyu Panguripan Sendang Siwani adalah bukti nyata bagaimana sebuah warisan sejarah dipertahankan dengan harga diri, kemandirian, dan penghormatan penuh terhadap tradisi leluhur. Sejarah membutuhkan peran anak muda, bukan sekadar untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk merawat, mencatat, dan membudidayakan nilai-nilainya agar tetap relevan serta tidak padam di masa depan.

,


Eksplorasi konten lain dari HMJ Dharmaduta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca