HMJ Dharmaduta — Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh nilai tinggi, tetapi juga tentang membangun kebiasaan belajar dan memahami berbagai persoalan. Salah satu kebiasaan yang perlu mendapat perhatian adalah membaca. Melalui kegiatan membaca, siswa memiliki kesempatan untuk mengenal gagasan baru, memperluas sudut pandang, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari
Namun, menumbuhkan literasi tidak cukup dilakukan dengan meminta siswa menyelesaikan sejumlah halaman buku. Hal yang lebih penting adalah memberikan ruang bagi mereka untuk memahami isi bacaan, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan pendapat. Dengan demikian, membaca tidak berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi menjadi bagian dari proses belajar yang bermakna.
Upaya menumbuhkan minat baca dapat dimulai dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih bacaan sesuai ketertarikannya. Cerita pendek, novel, buku pengetahuan, hingga artikel pendidikan dapat menjadi pilihan. Tidak semua siswa harus memulai dari jenis bacaan yang sama, karena setiap orang memiliki minat dan pengalaman yang berbeda.
Kegiatan membaca juga tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Membaca bersama teman, saling bertukar buku, atau membicarakan cerita yang menarik dapat menjadi cara untuk mendekatkan siswa dengan bahan bacaan. Pendekatan seperti ini menempatkan membaca sebagai kegiatan yang dapat dinikmati, bukan semata-mata kewajiban untuk mendapatkan nilai.
Meski demikian, kebebasan memilih bacaan tetap perlu disertai pendampingan. Guru dapat membantu siswa mengenali gagasan utama, memahami istilah yang belum dikenal, dan membedakan informasi dengan pendapat penulis. Pendampingan tersebut sebaiknya membuka kesempatan berdialog, bukan hanya menguji kemampuan mengingat isi buku.
Sekolah dapat mengambil peran dengan menyediakan bahan bacaan yang beragam dan mudah dijangkau. Perpustakaan maupun sudut baca kelas perlu dihadirkan sebagai ruang yang mengundang siswa untuk singgah, mencari informasi, dan menikmati bacaan.

Sumber : (smaalfurqanjember.sch.id)
Selain menyediakan fasilitas, sekolah dapat memberi tempat bagi kegiatan berbagi hasil bacaan. Siswa, misalnya, diajak menceritakan bagian buku yang paling berkesan atau mendiskusikan persoalan yang ditemukan dalam cerita. Kegiatan ini tidak harus selalu berakhir dengan tugas tertulis. Percakapan sederhana pun dapat menjadi kesempatan untuk melatih keberanian menyampaikan pemahaman.
Menumbuhkan minat baca merupakan usaha bersama yang perlu dilakukan secara konsisten. Ukurannya tidak semata-mata terletak pada banyaknya buku yang selesai dibaca, tetapi juga pada kesediaan siswa untuk bertanya, memahami, dan mempertimbangkan gagasan yang berbeda. Dari kebiasaan sederhana tersebut, pendidikan dapat diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga memiliki wawasan dan kemauan untuk terus belajar.

