HMJ Dharmaduta– Jauh di pelosok Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tersembunyi sebuah kisah sejarah penyebaran agama Buddha. Tepatnya berada di Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran, yang tercatat sebagai Kampung Buddha terbesar dan tertua di Wonogiri. Desa itu menyimpan jejak spiritual dan kisah toleransi yang menginspirasi.
Dikutip dari laman Merdeka, Kecamatan Manyaran memiliki 10 vihara, di mana enam di antaranya berlokasi di Desa Pijiharjo. Salah satu vihara pertama di daerah ini pun dibangun di desa tersebut. Data menunjukkan sekitar 350 Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Manyaran memeluk agama Buddha, dengan mayoritas berada di Pijiharjo. Mereka masih aktif beribadah di vihara-vihara yang tersebar di beberapa dusun seperti Jurang, Ngembong, Platar, dan Pengkol.
Berdasarkan kanal YouTube “Jejak Richard”, agama Buddha pertama kali masuk ke Desa Pijiharjo sekitar tahun 1968. Kala itu, agama Buddha menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat setempat. Tukiman, seorang warga setempat, mengenang masa itu, “Dulu itu waktu saya sekolah, ada Bikku tapi di Jakarta. Dulu saya tidak ada Guru Budha. Karena mau masuk SMA, terus masuk Islam sampai sekarang. Dulu itu Budha semua di sini. Dulu waktu sekolah memang tidak ada guru Buddha,” ujarnya.

Tukiman menambahkan, populasi umat Buddha yang banyak membuat desa tersebut akhirnya berdiri beberapa vihara.
“Dulu banyak umatnya, jika tidak banyak mana mungkin banyak vihara,” kata dia.
Siapa saja umat Buddha di sana dan mengapa jumlah vihara aktif berkurang? Murwarni, Ketua Umum II Umat Buddha, menjelaskan bahwa saat ini ada delapan vihara aktif di Kecamatan Manyaran.
Beberapa vihara tidak lagi digunakan karena umatnya semakin sedikit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti usia umat yang sudah tua tanpa penerus, migrasi ke luar kota, atau berpindah keyakinan karena pernikahan. “Di sini rata-rata sudah tua, putranya sudah beda agama karena perkawinan. Ada yang ikut agama suaminya atau istrinya,” kata Murwani.
Meskipun demikian, Murwani menegaskan bahwa semangat beribadah umat Buddha di Pijiharjo masih membara. “Biarpun pada tua-tua tapi masih tetap semangat ibadah. Masih tetap aktif tiap malam minggu ada acara puja bakti di Vihara, hari besar agama juga ikut merayakan,” ujarnya.
Selain sebagai pusat Buddha, Desa Pijiharjo juga dikenal sebagai daerah yang sangat menjunjung tinggi toleransi. Masjid, gereja, dan vihara berdiri berdampingan, mencerminkan kerukunan antarumat beragama. Warga lokal yang mayoritas Muslim hidup berdampingan tanpa masalah dengan umat Buddha, bahkan sering saling membantu dalam acara-acara tertentu.

